PDN Diretas Hacker, Data Keluarga Indonesia di BKKBN Aman Enggak Nih? Dokter Hasto Angkat Bicara

Read Time:2 Minute, 10 Second

gospelangolano.com, Pusat Data Nasional (PDN) Semarang, diretas hacker pada 20 Juni 2024. Hal ini menuai reaksi beragam dari masyarakat karena dampaknya yang luas.

Peretasan tersebut diduga menggunakan ransomware atau virus terbaru untuk menyerang server pemerintah yang menangani data nasional kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Direktur Jenderal Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo menyatakan informasi keluarga di Indonesia masih aman setelah mendengar kabar peretas PDN.

Menurutnya, keluarga data BKKBN memiliki mekanisme penyimpanan, pemrosesan, dan penyimpanan multi-layer yang sangat baik. Secara terpisah, pengungkapan informasi tersebut memerlukan proses dengan wali untuk memastikan kerahasiaan informasi keluarga “berdasarkan nama dan alamat.”

“Dalam beberapa kasus, kami hanya menyediakan data kependudukan agregat. Ini adalah sistem stratifikasi yang diterapkan BKKBN, jadi ‘Alhamdulillah informasi keluarga sekarang aman’,” tambah dr Hast.

Sekadar informasi keluarga, Rumah Datak Kampung KB dinilai pada kategori Rumah Datak Tradisional Terbaik dan Rumah Datak Digital Terbaik.

Menurut Hasti, Rumah Datak berperan penting dalam percepatan pembangunan keluarga, jumlah penduduk, keluarga berencana (Banga Kencana) dan program stunting.

“Kalau saya ke Rumah Datak, saya puas kalau lurah, lurah, kepala dinas tahu berapa orang yang hamil dan di mana mereka tinggal. Memperlambat mikrodata di Rumah Datak akan memudahkan pekerjaan kami,” kata Hasto yang memimpin seminar nasional peningkatan kualitas integrasi dan sinkronisasi kebijakan dengan Rencana Pembangunan Kependudukan Indonesia 2045. Usai rapat berakhir, katanya: Jawa, Kamis 27 Juni 2024.

Peristiwa peretasan PDN sebelumnya dilaporkan oleh Badan Sandi Siber Negara (BSSN), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), dan operator Telkom Sigma.

Akibatnya, data-data yang ada di pusat data nasional tersandera dan pelayanan publik yang memanfaatkan pusat data ini ambruk, salah satu yang terparah adalah pelayanan imigrasi.

Melihat hal tersebut, pemantau keamanan siber Alfons Tanujaya Akuncom seperti dikutip Tekno gospelangolano.com menyebutkan, ransomware saat ini menjadi malware yang paling ditakuti di kalangan pengguna komputer dan penjaga data.

Ransomware adalah kejahatan dunia maya di mana seorang peretas menembus suatu sistem, memperoleh dan mengunci (mengenkripsi) data orang lain. Pelaku kemudian menyandera data tersebut dan meminta uang tebusan kepada pemilik data atau pengontrol data.

Ransomware sekarang dapat menambahkan fungsinya ke ransomware.

“Ketika ransomware bekerja dengan mengenkripsi data atau sistem yang mereka serang, ransomware mengancam akan membagikan data yang dicuri jika korban menolak membayar uang tebusan yang diminta,” kata Alphonse.

Data yang diserang adalah PDN Temporary 2, yang diserang oleh ransomware BrainChipper, turunan dari Lockbit.

Ransomware ini melumpuhkan layanan pemerintah yang menggunakan sistem dan data yang dikelola oleh PDN.

Salah satu layanan yang membingungkan adalah imigrasi, pintu gerbang ke Indonesia dan rasa malu terhadap Indonesia.

Penyebabnya, terhambatnya pelayanan keimigrasian dan terbentuknya antrian panjang karena pemeriksaan keimigrasian yang seharusnya dilakukan secara elektronik harus dilakukan secara manual.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post PDN Sementara Kena Ransomware, Pengamat: Serangan yang Kini Paling Ditakuti Pengelola Data
Next post Orang yang Sering Begadang Cenderung Terbiasa Hidup tak Sehat